Sakramen Mahakudus
Kutipan Katolik
SAKRAMEN MAHAKUDUS: KEHADIRAN NYATA KRISTUS
Wahai umat-Ku, ketika Aku kau panggil turun ke bumi melalui imam saat konsekrasi, engkau begitu menghormati-Ku. Dengan berlutut dan sikap sujud tanganmu terkatup untuk menyembah-Ku.
Ketika Aku kau arak dalam prosesi saat Kamis Putih, engkau begitu menghormati-Ku. Dengan berlutut sampai ke lantai engkau menyembah-Ku.
Ketika Aku kau takhtakan di monstrans dan kau bawa dalam perarakan, engkau begitu memuliakan-Ku.
Ketika Aku kau takhtakan di altar dalam adorasi Sakramen Mahakudus, engkau begitu menghormati-Ku, semua menyembah-Ku sebagai Raja Mahatinggi.
Namun, saat Aku berada dalam tabernakel seorang diri, engkau seakan melupakan kehadiran-Ku. Engkau berlalu lalang di muka kemah tempat Aku bertkahta tanpa menghiraukan-Ku lagi, tanpa sikap hormat dengan berlutut sejenak saat melintas, seolah-olah Aku tidak berada di sana.
Engkau sibuk berbicara dengan suara lantang dengan sesamamu, seolah-olah engkau tidak sedang berada di gereja Tuhanmu.
Bahkan engkau bercanda satu sama lain dan sibuk dengan alat komunikasi dalam gereja-Ku seolah-olah berada di gedung pertemuan.
Saat engkau hendak duduk di bangkumu dan saat engkau meninggalkan bangkumu, hampir tak ada yang mau berlutut untuk menghormati-Ku. Apakah lutut yang Kuberikan kepadamu begitu sakitnya untuk berlutut?
Ingatlah, manusia terdiri dari jiwa dan raga. Sikap raga mempengaruhi sikap batinmu dalam menyembah-Ku.
Ketahuilah, Aku, Tuhanmu, sungguh-sungguh nyata hadir dalam Sakramen Mahakudus. Hosti yang telah dikonsekrasi sungguh-sungguh adalah Aku. Hosti ini bukan simbol diri-Ku, tetapi sungguh-sungguh diri-Ku dalam setiap partikel Hosti sekecil apa pun.
Aku tetap Tuhanmu yang sama, baik saat konsekrasi, adorasi, dan perarakan, mengapa sikap hormatmu berbeda-beda?
Janganlah engkau bersikap seperti bangsa Yahudi di masa lalu, yang saat Minggu Palma menyambut-Ku sebagai Raja, namun seminggu kemudian mengenyahkan Aku sampai kepada wafat-Ku yang sangat memilukan.
Wahai para imam-Ku, para alter Christus, sudahkah kalian memberi katekese kepada umat-Ku bagaimana menghormati-Ku dengan cara yang layak?
-----------------------
SAKRAMEN MAHAKUDUS: KEHADIRAN NYATA KRISTUS
Wahai umat-Ku, ketika Aku kau panggil turun ke bumi melalui imam saat konsekrasi, engkau begitu menghormati-Ku. Dengan berlutut dan sikap sujud tanganmu terkatup untuk menyembah-Ku.
Ketika Aku kau arak dalam prosesi saat Kamis Putih, engkau begitu menghormati-Ku. Dengan berlutut sampai ke lantai engkau menyembah-Ku.
Ketika Aku kau takhtakan di monstrans dan kau bawa dalam perarakan, engkau begitu memuliakan-Ku.
![]() |
| Foto oleh: Jeffrey Bruno |
Ketika Aku kau takhtakan di altar dalam adorasi Sakramen Mahakudus, engkau begitu menghormati-Ku, semua menyembah-Ku sebagai Raja Mahatinggi.
Namun, saat Aku berada dalam tabernakel seorang diri, engkau seakan melupakan kehadiran-Ku. Engkau berlalu lalang di muka kemah tempat Aku bertkahta tanpa menghiraukan-Ku lagi, tanpa sikap hormat dengan berlutut sejenak saat melintas, seolah-olah Aku tidak berada di sana.
Engkau sibuk berbicara dengan suara lantang dengan sesamamu, seolah-olah engkau tidak sedang berada di gereja Tuhanmu.
Bahkan engkau bercanda satu sama lain dan sibuk dengan alat komunikasi dalam gereja-Ku seolah-olah berada di gedung pertemuan.
Saat engkau hendak duduk di bangkumu dan saat engkau meninggalkan bangkumu, hampir tak ada yang mau berlutut untuk menghormati-Ku. Apakah lutut yang Kuberikan kepadamu begitu sakitnya untuk berlutut?
Ingatlah, manusia terdiri dari jiwa dan raga. Sikap raga mempengaruhi sikap batinmu dalam menyembah-Ku.
Ketahuilah, Aku, Tuhanmu, sungguh-sungguh nyata hadir dalam Sakramen Mahakudus. Hosti yang telah dikonsekrasi sungguh-sungguh adalah Aku. Hosti ini bukan simbol diri-Ku, tetapi sungguh-sungguh diri-Ku dalam setiap partikel Hosti sekecil apa pun.
Aku tetap Tuhanmu yang sama, baik saat konsekrasi, adorasi, dan perarakan, mengapa sikap hormatmu berbeda-beda?
Janganlah engkau bersikap seperti bangsa Yahudi di masa lalu, yang saat Minggu Palma menyambut-Ku sebagai Raja, namun seminggu kemudian mengenyahkan Aku sampai kepada wafat-Ku yang sangat memilukan.
Wahai para imam-Ku, para alter Christus, sudahkah kalian memberi katekese kepada umat-Ku bagaimana menghormati-Ku dengan cara yang layak?
-----------------------

0 Komentar
Berkomentar dengan santun, karena nilai-nilai bangsa adalah ramah, toleran, santun dan tidak memprovokasi.
Inilah Indonesia dengan beragam budaya dan tradisinya.