Bacaan Injil minggu kali ini (31 Maret 2019) mengingatkanku akan sebuah peran drama sewaktu SD dulu..

Dulu ku mengenyam pendidikan SD di SDN Simomulyo I/98, Surabaya.. sewaktu pelajaran agama Katolik, terpaksa saya ikut pengajaran agama Protestan karena tdk ada pengajar agama Katolik kala itu.

Ibu Aflian, begitu nama guruku yang mengajar agama Protestan.. Tidak menjadi soal karena pengajarannya pun tdk lepas dari pengajaran Katolik, kecuali dalam hal dogma.

Menjelang Paskah, kami satu kelas dibentuk kelompok dan membuat drama kecil, kisahnya diambil dari Bacaan Injil Lukas 15: 1-32, kisah seorang anak bungsu yang pergi meninggalkan Ayahnya untuk berfoya2..

Sedikit ingatan yang masih tertinggal dalam memory ini, entah bagaimana ingatan itu terlintas hanya sebagian dan tidak penuh..

Mau cerita apa kali ini? Pernah ku menjadi seorang anak bungsu seperti yang ada dalam kisah tersebut, dalam hal ini kedekatanku dengan Tuhan, sebagai pengikut Kristus, kita menyebut Tuhan dengan sebutan Bapa, karena kita adalah anak2Nya yang percaya dalam Dia.

Suatu kali, sempat ku "ngambek" pada Bapa karena ada satu hal yang ku pinta tak kunjung dikabulkan.. namun, Bapa tidak lantas meninggalkanku begitu saja, Dia selalu menyertai dan menyentuhku lewat pengalaman2 yang terkadang tidak dapat dijelaskan secara logis. Lambat laun, kembali ku kepadaNya dan kembali rajin hidup melayani di Gereja.

Gaes, yakinlah bahwa sengambek-ngambeknya kalian pada Sang Pencipta, Dia tidak lantas meninggalkanmu, Dia setia menyertai langkahmu sampai suatu ketika kau akana kembali dengan denganNya..

Tuhan tidak jauh, dia hanya sejauh doa.. begitu penggalan sebuah lirik lagu..

Erick Lega, Surabaya 2019